Sabtu, 17 Desember 2011

Tentang Paragraf

BAB I

PENDAHULUAN
http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-i-dan-ii/

A.  Latar Belakang Masalah

Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi dan kebudayaan, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada hakikatnya fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, mengungkapkan gagasan, perasaan, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa dan kemampuan memperluas wawasan. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia haruslah diarahkan pada hakikat Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai alat komunikasi. Sebagaimana diketahui bahwa sekarang ini orientasi pembelajaran bahasa berubah dari penekanan pada pembelajaran aspek bentuk ke pembelajaran yang menekankan pada aspek fungsi. Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses negoisasi pesan dalam suatu konteks atau situasi menurut Sampson (dalam Depdiknas 2005:7).

Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya penting dalam kehidupan pendidikan, tetapi juga sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Keterampilan menulis itu sangat penting karena merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki. Selain itu, dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis.

Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Bahwa menulis adalah suatu kegiatan yang aktif dan produktif serta memerlukan cara berpikir yang teratur yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Keterampilan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sebagai suatu keterampilan yang produktif. Menulis dipengaruhi oleh keterampilan produktif lainnya, seperti aspek berbicara maupun keterampilan reseptif yaitu aspek membaca dan menyimak serta pemahaman kosa kata, diksi, keefektifan kalimat, penggunaan ejaan dan tanda baca. Pemahaman berbagai jenis karangan serat pemahaman berbagai jenis paragraf dan pengembangannya.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang yang ditetapkan sebagai Kurikulum 2006 telah diberlakukan di sekolah-sekolah mulai tahun 2006. Kurikulum 2006 ini juga diterapkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan perlu ditegaskan bahwa tugas sebagai guru adalah membelajarkan siswa, bukan mengajar. Siswalah yang harus didorong agar secara aktif berlatih menggunakan bahasa khususnya pada keterampilan menulis. Tugas guru adalah menciptakan situasi dan kondisi agar siswa belajar secara optimal untuk berlatih menggunakan bahasa agar komopetensi yang diharapkan dapat tercapai.

Berkaitan dengan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, dalam Kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis. Standar kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu Standar kompetensi adalah dasar bagi siswa untuk dapat memahami dan mengakses perkembangan lokal, regional, dan global.

Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi dan kebudayaan, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru merupakan kunci dan sekaligus ujung tombak pencapaian misi pembaharuan pendidikan, mereka berada di titik sentral untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang untuk mencapai tujuan dan misi pendidikan nasional yang dimaksud. Oleh karena itu,  secara tidak langsung guru dituntut untuk lebih profesional, inovatif, perspektif, dan proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

Pada kesempatan ini, peneliti (guru) membahas tentang keterampilan menulis khususnya menulis paragraf deskripsi. Selama ini berdasarkan hasil observasi, keterampilan siswa untuk menulis masih sangat terbatas, terlebih lagi untuk dapat menulis paragraf deskripsi mereka kesulitan untuk dapat membedakan jenis-jenis paragraf. Agar dapat menulis kadang-kadang siswa perlu dipacu dengan menggunakan teknik dan media yang menarik. Untuk itu guru perlu mencari upaya yang dapat membuat siswa tertarik agar siswa dapat menulis dengan baik.

Dalam menulis dibutuhkan adanya ketelitian, kepaduan, keruntutan dan kelogisan antara kalimat satu dengan kalimat yang lain, antara paragraf dengan paragraf berikutnya sehingga akan membentuk sebuah karangan yang baik dan utuh. Pengajaran menulis, khususnya menulis paragraf deskripsi adalah keterampilan yang bertujuan untuk mengajukan suatu objek atau suatu hal yang sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan kepala pembaca.

Melalui penelitian ini, peneliti mencoba satu pembaharuan untuk meningkatkan keterampilan menulis paragraf deskripsi yaitu melalui penggunaan teknik objek langsung. Penggunaan teknik objek langsung ini sebagai alternatif pembelajaran menulis paragraf deskripsi sehingga diharapkan siswa akan lebih tertarik untuk menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan dan diharapkan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam pembelajaran menulis. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang baru agar dapat memberdayakan siswa. Strategi pembelajaran itu antara lain pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa belajar dengan bermakna. Pendekatan kontekstual diharapkan dapat mendorong siswa agar menyadari dan menggunakan pemahamannya untuk mengembangkan diri dan penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendekatan kontekstual yang demikian diharapkan siswa dapat mengerti makna belajar, manfaat belajar, status mereka, serta bagaimana mereka mencapai semua itu. Mereka akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari akan berguna bagi hidupnya nanti.

Pendekatan kontekstual komponen pemodelan dengan teknik objek langsung diharapkan dapat mengenalkan atau menunjukkan, memotivasi, dan menarik minat siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati dalam menulis paragraf deskripsi, dan diharapkan keterampilan menulis paragraf deskripsi akan meningkat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disimpulkan, permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut ini.

1.    Bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi siswa  kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati setelah mendapatkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ?

2.    Bagaimanakah perubahan sikap dan tingkah laku siswa setelah mendapatkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang akan dicapai dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut.

1.    Mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran  menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung pada siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati.

2.    Mendeskripsikan perubahan sikap dan tingkah laku siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati setelah mendapatkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi melalui teknik objek langsung.

D. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti mempunyai dua manfaat teoretis dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan manfaat teoretis, yaitu dapat memberikan sumbangan pemikiran dan tolok ukur kajian pada penelitian lebih lanjut yaitu berupa alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam usaha memperbaiki mutu pendidikan dan mempertinggi interaksi belajar mengajar, khususnya dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Manfaat teoretis lainnya adalah menambah khasanah pengembangan pengetahuan mengenai pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Selain itu, juga mengembangkan teori pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.

2.  Manfaat Praktis

Secara praktis manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini dibagi menjadi empat yaitu: bagi siswa, guru, sekolah.

a.   Manfaat bagi siswa

Dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis pada umumnya dan menulis paragraf deskripsi pada khususnya, dan meningkatkan kreativitas dan keberanian siswa dalam berpikir.

b.   Manfaat bagi guru

Untuk memperkaya khasanah metode dan strategi dalam pembelajaran menulis, untuk dapat memperbaiki metode mengajar yang selama ini digunakan, agar dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan tidak membosankan, dan dapat mengembangkan keterampilan guru Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya dalam menerapkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.

c.   Manfaat bagi sekolah

Dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam rangka memajukan dan meningkatkan prestasi sekolah yang dapat disampaikan dalam pembinaan guru ataupun kesempatan lain bahwa pembelajaran menulis khususnya menulis paragraf deskripsi dapat menggunakan teknik objek langsung sebagai bahan pencapaian hasil belajar yang maksimal.

BAB II

LANDASAN TEOREI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Pustaka

Upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis pada siswa telah banyak dilakukan. Hal ini terbukti dengan banyaknya penelitian yang dilakukan oleh para ahli bahasa maupun para mahasiswa. Penelitian tersebut belum semuanya sempurna. Oleh karena itu, penelitian tersebut memerlukan penelitian lanjutan demi melengkapi dan menyempurnakan penelitian sebelumnya.

Beberapa hasil penelitian yang berhubungan dengan topik penelitian ini yaitu penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis yang akan dijadikan sebagai kajian pustaka dalam penelitian. Penelitian tersebut dilakukan oleh Esti (2004), Anis (2005), Ishmah (2006).

Penelitian Esti (2004) yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Menggunakan Elemen Bertanya Pembelajaran Kontekstual Pada Siswa Kelas IIE SMP Negeri 1 Garung Kabupaten Wonosobo, menyimpulkan bahwa dengan digunakannya elemen bertanya pembelajaran kontekstual sangat mendukung peningkatan kemampuan menulis siswa. Hal ini terbukti dari hasil penelitian tersebut yang menunjukkan adanya peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi dengan menggunakan elemen bertanya. Skor rata-rata kelas pada tahap prasiklus sebesar 50,37. Pada siklus I skor rata-rata kelas meningkat sebesar 15,54 menjadi 65,91. Sedangkan pada siklus II skor rata-rata kelas meningkat sebesar 12 menjadi 77,91. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran keterampilan menulis karangan deskripsi dengan menggunakan elemen bertanya dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa kelas IIE SMP Negeri 1 Garung Kabupaten Wonosobo.

Penelitian Anis (2005) yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Deskripsi dengan Teknik Menulis Terbimbing pada Siswa Kelas IIB SLTP Negeri 3 Kradenan Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan, membahas tentang bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa melalui teknik menulis terbimbing, dengan tujuan untuk meningkatkan keterampialn menulis deskripsi dan meningkatkan prilalu positif siswa kelas IIB SLTP Negeri 3 Kradenan Kabupaten Kudus.

Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian keterampilan menulis siswa kelas IIB SLTP Negeri 3 Kradenan. Setelah dilaksanakan penelitian teknik terbimbing pada siswa, ternyata ada peningkatan pada keterampilan menulis deskripsi siswa. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi pada aspek isi karangan, aspek bahasa, aspek ejaan dan tanda baca, aspek kesatuan gagasan, aspek diksi,  dan aspek judul karangan. Dari semua aspek tersebut, dapat disimpulkan nilai rata-rata siklus I 38,33 %, nilai rata-rata siklus II 44,04 %, sedangkan dari siklus I ke tes siklus II sebesar 96,54 %.

Penelitian Ishmah (2006) yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Eksposisi dengan Menggunakan Media Animasi Berbasis Komputer pada Siswa Kelas X3 SMA Negeri 7 Semarang, meneliti penggunaan media animasi sebagai alternatif menulis paragraf eksposisi. Penelitian ini didasarkan pada hasil tindakan siklus I dan hasil tindakan siklus II. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pada siklus I ke siklus II. Pada siklus I hasil rata-rata nilai adalah 65,07. Setelah dilakukan tindakan siklus II, Nilai rata-rata meningkat menjadi 76,27. Hasil tersebut mengalami peningkatan sebesar 11,19 atau 17,19 % dari siklus I. Hasil tersebut membuktikan bahwa pembelajaran menulis paragraf eksposisi menggunakan media animasi berbasis komputer dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa. Selain itu, terdapat juga perubahan tingkah laku siswa dalam menulis paragraf eksposisi yaitu siswa menjadi lebih berminat dan aktif dalam mengikuti belajar mengajar.

Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan tersebut, terdapat persamaan, yaitu penelitian yang dilakukan sama mengenai keterampilan menulis. Namun, ada beberapa perbedaan yaitu objek kajian dan teknik pembelajaran. Terkait dengan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan, penelitian tersebut dapat menjadi panduan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Berdasarkan kajian pustaka tersebut, dapat diketahui bahwa Penelitian Tindakan Kelas tentang menulis memiliki persamaan, yaitu bahwa penelitian menulis sudah dilakukan oleh beberapa peneliti, keterampilan siswa untuk menulis masih relatif rendah sehingga perlu adanya peningkatan keterampilan menulis bagi siswa melalui percobaan penggunaan metode, media, dan pendekatan yang berbeda.

Perbedaannya, setiap penelitian mempunyai ide yang baru dalam hal cara sehingga hasilnya pun berbeda. Akan tetapi, penelitian tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu meningkatkan keterampilan menulis siswa. Para peneliti menggunakan teknik, metode, dan media maupun pendekatan yang bervariasi tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan keterampilan menulis siswa. Berdasarkan penelitian yang sudah pernah dilakukan maka pada kesempatan ini peneliti akan melakukan penelitian tentang menulis paragraf deskripsi. Tentunya dengan metode, dan teknik yang berbeda. Dalam penelitian ini guru menggunakan teknik objek langsung sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis paragraf deskripsi. Penelitian yang akan dilakukan adalah bagaimana peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan pada siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati.

Penelitian ini sebagai tindak lanjut dari penelitian-penelitian yang sudah ada, dengan tujuan untuk memberikan pemikiran dan tolok ukur kajian pada penelitian-penelitian lebih lanjut sehingga dapat menambah khasanah pengembangan pengetahuan mengenai pembelajaran menulis khususnya menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung. Dengan teknik objek langsung yang pembelajarannya dilakukan di dalam dan di luar kelas diharapkan siswa tidak merasa jenuh dan dapat menungkan ide serta gagasannya. Selain itu,  kelebihan dalam menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung ini, agar pembaca dapat merasakan dan masuk ke dalam inspirasi penulis. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi dan mengubah perilaku siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati.

B. Landasan Teori

Teori-teori yang akan dipaparkan dalam landasan teoretis ini berkaitan dengan penelitian ini yaitu meliputi teori tentang keterampilan menulis, hakikat menulis paragraf deskripsi, hakikat objek langsung, pembelajaran kontekstual, kaitan antara pendekatan kontekstual dengan pembelajaran menulis, dan pembelajaran menulis paragraf deskripsi melalui teknik objek langsung. Teori-teori ini akan menjadi landasan dalam penelitian ini.

1) Keterampilan Menulis

Keterampilan menulis adalah keterampilan yang paling kompleks, karena keterampilan menulis merupakan suatu proses perkembangan yang menuntut pengalaman, waktu, kesepakatan, latihan serta memerlukan cara berpikir yang teratur untuk mengungkapkannya dalam bentuk bahasa tulis. Oleh sebab itu,  keterampilan menulis perlu mendapat perhatian yang lebih dan sungguh-sungguh sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa.

2) Hakikat Menulis

Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan dan pengetahuan. Dalam kegiatan menulis ini, maka penulis haruslah teampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Disebut sebagai kegiatan produktif karena kegiatan menulis menghasilkan tulisan, dan disebut sebagai kegiatan yang ekspresif  karena kegiatan menulis adalah kegiatan yang mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan penulis kepada pembaca (Tarigan 1983:3-4).

3) Hakikat Menulis Paragraf Deskripsi

Deskripsi adalah semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu obyek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga obyek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan para pembaca melihat sendiri obyek itu (Keraf 1995:16). Deskripsi memberi satu citra mental mengenai sesuatu hal yang dialami, misalnya pemandangan, orang atau sensasi.

Fungsi utama dari deskripsi adalah membuat para pembacanya melihat barang-barang atau obyeknya, atau menyerap kualitas khas dari barang-barang itu. Deskripsi membuat kita melihat yaitu membuat visualisasi mengenai obyeknya, atau dengan kata lain deskripsi memusatkan uraiannya pada penampakan barang. Dalam deskripsi kita melihat obyek garapan secara hidup dan konkrit, kita melihat obyek secara bulat.

Misalnya kita akan membuat deskripsi tentang sebuah rumah, diharapkan menyajukan banyak penampilan individual dan karakteristik dari rumah itu, dan beberapa aspek yang dapat dianalisis seperti : besarnya, materi konstruksinya, dan rancangan arsitekturnya. Demikian pula deskripsi suatu daerah pedesaan kurang bertalian dengan ciri-ciri studi topografis, tetapi lebih terfokus pada macam-macam keistimewaan umum, dan suasana lokal yang menarik. Karena sasaran yang dituju adalah memberi perhatian pada penampilan yang khas dari obyeknya. Deskripsi lebih memberikan citra yang menarik mengenai objek itu. Deskripsi banyak kaitannya dengan hubungan pancaindera dan pencitraan, maka banyak tulisan deskripsi di klasifikasikan sebagai tulisan kreatif.

Tujuan menulis deskripsi adalah membuat para pembaca menyadari dengan hidup apa yang diserap penulis melalui pancaindera, merangsang perasaan pembaca mengenai apa yang digambarkannya, menyajikan suatu kualitas pengalaman langsung. Objek yang dideskipsikan mungkin sesuatu yang bisa ditangkap dengan pancaindera kita, sebuah pemandangan alam, jalan-jalan kota, tikus-tikus selokan atau kuda balapan, wajah seseorang yang cantik molek, atau seseorang yang putus asa, alunan musik atau gelegar guntur, dan sebagainya.

Paragraf deskripsi merupakan penggambaran suatu keadaan dengan kalimat-kalimat, sehingga menimbulkan kesan yang hidup. Penggambaran atau lukisan itu harus disajikan sehidup-hidupnya, sehingga apa yang dilukiskan itu hidup di dalam angan-angan pembaca.

Deskripsi lebih menekankan pengungkapannya melalui rangkaian kata-kata. Walaupun untuk membuat deskripsi yang baik, penulis harus mengadakan identifikasi terlebih dahulu, namun pengertian deskripsi hanya menyangkut pengungkapa melalui kata-kata. Dengan mengenal ciri-ciri obyek garapan, penulis dapat menggambarkan secara verbal obyek yang ingin diperkenalkan kepada para pembaca.

Maka dapat disimpulkan bahwa paragraf deskripsi merupakan paragraf yang melukiskan suatu objek sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal yang ditulis pengarang.

4) Hakikat Objek Langsung

Teknik pembelajaran menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan objek yang dilihat. Guru menunjukkan objek kepada siswa di depan kelas, misalnya sebuah patung, vas bunga, mobil-mobilan, dan lain-lain. Dari objek tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan objek yang dilihatnya. Alat yang dibutuhkan adalah objek-objek yang bervariasi sesuai dengan tema pembelajaran. Teknik ini dapat dijalankan secara perseorangan maupun secara kelompok (Suyatno 2004:82).

Penerapan yang digunakan dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung ini, guru menyampaikan pengantar kemudian guru memajang beberapa objek di depan kelas, setelah siswa melihat objek tersebut, siswa mulai mengidentifikasi objek, lalu siswa membuat tulisan secara runtut dan logis. Teknik pembelajaran menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan objek yang dilihat. Teknik ini dapat dijalankan secara perseorangan maupun secara kelompok dengan cara observasi langsung. Siswa secara langsung dapat menuangkan ide atau gambaran sesuai apa yang mereka lihat sesuai dengan pancaindera jadi kesannya membuat tulisan itu menjadi hidup. Model observasi langsung memang akan memuaskan harapan pembaca karena dianggap sebagai jalan menuju obyektivitas dan pembaca benar-benar dapat merasakan apa yang mereka baca seolah-olah mereka melihat sendiri objek yang ada dalam tulisan tersebut.

5) Pembelajaran Kontekstual

Sumber daya manusia yang semakin maju, maka dunia pendidikan sangat menuntut untuk menciptakan lingkungan belajar yang alamiah sesuai dengan pola pikir siswa. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan hanya sekedar mengetahuinya saja. Oleh karena itu, melalui pembelajaran kontekstual diharapkan target penguasaan materi akan lebih berhasil dan siswa dapat semaksimal mungkin untuk mengembangkan kompetensinya.

a. Pengertian Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat (Nurhadi dan Senduk 2003:13).

Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup.

Banyak manfaat yang dapat diambil oleh siswa dalam pembelajaran kontekstual yaitu terciptanya ruang kelas yang di dalamnya siswa akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat yang pasif, dan mereka akan lebih bertanggung jawab dengan apa yang mereka pelajari. Pembelajaran akan menjadi lebih berarti dan menyenangkan. Siswa akan bekerja keras untuk mencapai tujuan pembelajaran, mereka menggunakan pengalaman dan pengetaBABhuan sebelumnya untuk membangun pengetahuan baru.

Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual ini adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Selain itu guru juga memberikan kemudahan belajar kepada siswa, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk belajar. Lingkungan belajar yang kondusif sangat diperlukan, maksudnya belajar dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari “guru akting di depan kelas, siswa menonton” ke “siswa aktif bekerja dan berkarya guru mengarahkan”. Pengajaran harus berpusat pada “bagaimana cara” siswa menggunakan pengetahuan baru mereka sehingga strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan dengan hasilnya.

Guru bukanlah sebagai yang paling tahu, melainkan guru harus mendengarkan siswa-siswanya dalam berpendapat mengungkapkan ide atau gagasan yang dimiliki oleh siswa. Guru bukan lagi sebagai penentu kemajuan siswa-siswanya, tetapi guru sebagai seorang pendamping siswa dalam pencapaian kompetensi dasar. Menurut Zahorik (dalam Mulyasa 2006:219) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual yaitu (1) Pembelajaran harus memperhatikan, pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik; (2) Pembelajaran dimulai dari keseluruhan menuju bagian-bagiannya secara khusus; (3) Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara : menyusun konsep sementara, melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain, merevisi dan mengembangkan konsep; (4) Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apa-apa yang dipelajari; (5) Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.

Pendekatan kontekstual maksudnya adalah suatu konsep belajar di mana menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan keluarga dan masyarakat. Hasil pembelajaran diharapkan akan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjang (Nurhadi dan Senduk 2003:4).

Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang mereka pelajari.

Pembelajaran kontekstual ini memungkinkan proses belajar yang tenang dan menyenangkan, karena pembelajaran dilakukan secara alamiah, sehingga peserta didik dapat mempraktekkan secara langsung apa yang telah mereka pelajari.

Pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk memahami hakikat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memungkinkan mereka rajin, dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan untuk belajar. Kondisi ini akan terwujud, ketika siswa menyadari tentang apa yang mereka perlukan untuk hidup, dan bagaimana cara untuk menggapainya.

b. Komponen Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual mempunyai tujuh komponen utama pembelajaran, diantaranya yaitu (1) kontruktivisme (contructivism), (2) bertanya (questioning), (3) menemukan (inquiry), (4) masyarakat belajar (learning community), (5) pemodelan (modeling), (6) refleksi (reflection), dan (7) penilaian sebenarnya (authentic assessement).

Kontruktivisme (contructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan satu informasi komplek ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik sendiri.

Bertanya (questioning) adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk menganalisis dan mengeksplorasi gagasan-gagasan. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai keterampilan berpikir siswa. Hal ini merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan pada aspek yang belum diketahuinya.

Menemukan (inquiry) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengikat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam inkuiri terdiri atas siklus yang mempunyai langkah-langkah antara lain (1) merumuskan masalah, (2) mengumpulkan data melalui observasi, (3) menganalisi dan menyajikan hasil tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, atau audiens yang lain.

Masyarakat belajar (learning community), hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antarteman, antarkelompok, dan antarmereka yang tahu ke mereka yang sebelum tahu. Dalam masyarakat belajar, anggota kelompok yang terlibat dalam kegiatan masyarakat memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan juga meminta informasi yang diperlukan dari teman bicaranya.

Pemodelan (modeling) yaitu dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaiman guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar.

Refleksi (reflection) adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Kunci dari itu semua adalah, bagaimana pengetahuan mengendap dibenak siswa. Siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru.

Penilaian yang sebenarnya (authentic assessement), merupakan prosedur penilaian pada pembelajaran konekstual yang memberikan gambaran perkembangan belajar siswanya. Assessement adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Jika data yang dikumpulkan oleh guru mengidentifikasi bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera mengambil tindakan tepat agar siswa terbebas dari kemacetan tersebut.

Melalui penelitian ini, peneliti mencoba untuk menerapkan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.

6) Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan

Menulis merupakan keterampilan yang harus dilatih, karena menulis bukan merupakan keterampilan alami. Oleh karena itu, bagi setiap penulis diharapkan untuk dapat menuangkan ide dan gagasannya dengan baik dan jelas agar pembaca tidak bingung dalam membacanya. Menurut Owens (dalam Soenardji 1998:102) dalam hubungannya dengan pengajaran bahasa, menulis adalah menggabungkan sejumlah kata menjadi kalimat yang baik dan benar menurut tata bahasa dan menjalinnya menjadi wacana yang tersusun menurut penalaran yang tepat.

Dalam Kurikulum 2006 atau yang sekarang ini disebut sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), bahwa pembelajaran diserahkan kepada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator. Siswa tidak lagi menjadi objek belajar melainkan sebagai subjek belajar. Oleh karena itu, siswa harus aktif dalam belajar, termasuk juga dalam pembelajaran menulis.

Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi  ini adalah pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Kaitan antara pembelajaran menulis dengan pendekatan ini adalah terdapat pada langkah pembelajarannya. Langkah yang pertama yang dilakukan oleh guru adalah memberikan contoh sebuah paragraf deskripsi dengan menunjukkan satu objek misalnya saja bunga, dari objek itu diharapkan siswa mampu mengembangkan sebuah paragraf karena mereka melihat sendiri objek yang akan ditulis ke dalam sebuah paragraf deskripsi .

Melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ini diharapkan siswa merasa lebih mudah dalam menulis karena mereka sudah mempunyai gambaran yang telah diberikan oleh guru melalui sebuah contoh, dan diharapkan siswa dapat mengembangkan ide, pikiran, dan gagasan mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

7) Pembelajaran Menulis Paragraf Deskripsi Melalui Teknik Objek  Langsung

Tujuan teknik pembelajaran menulis paragraf deskripsi agar siswa dapat menulis paragraf deskripsi melalui pengamatan secara langsung, dengan begitu siswa dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan, ide, mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis.

Berdasarkan teori (Suyatno 2004:82) dapat dirumuskan beberapa cara yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran menulis dengan teknik objek langsung yaitu (1) Guru memberikan pengantar singkat tentang teknik pembelajaran menulis paragraf deskripsi; (2) Guru membagi kelompok berdasarkan objek yang akan diamati oleh siswa; (3) Guru menyuruh siswa untuk keluar kelas selama 45 menit; (4) Setelah siswa selesai menulis paragraf deskripsi sesuai dengan objek yang ditentukan oleh guru, kemudian siswa mempresentasikan secara individu sesuai dengan pembagian kelompok objek yang berbeda; (5) Setiap kelompok dengan objek yang berbeda mengomentari hasil yang ditulis oleh siswa; (6) Guru merefleksi proses kegiatan hari itu.

Upayakan pembelajaran menulis paragraf deskripsi ini dirancang dengan tepat agar siswa senang, tertarik, dan menantang. Guru menentukan objek yang akan ditulis kedalam paragraf deskripsi pada setiap kelompok, tetapi dikerjakan secara individu agar siswa bebas dalam berekspresi dan menuangkan ide dalam bentuk tertulis.

C. Kerangka Berpikir

Kemampuan menulis memberikan makna yang penting untuk berkomunikasi secara tidak langsung dalam kehidupan. Memiliki kemampuan menulis tidaklah semudah yang dibayangkan oleh banyak orang. Semakin banyak kita berlatih menulis, maka akan semakin menguasai keterampilan tersebut. Tidak ada orang yang dapat langsung terampil menulis tanpa melalui suatu proses latihan.

Sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis khususnya menulis paragraf deskripsi, guru harus menerapkan pengetahuannya mengenai teknik dalam mengajar. Peneliti dalam hal ini sebagai guru menggunakan teknik objek langsung guna mengaktifkan siswa dalam pembelajaran.

Penggunaan teknik objek langsung akan menuntut siswa berpikir aktif menuangkan apa yang ia pikirkan dan ia rasakan. Teknik objek langsung juga dapat membantu siswa untuk mengalirkan secara bebas apapun yang telah tersimpan di dalam pikiran dan perasaan siswa.

Lingkungan fisik, sosial, atau budaya merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar siswa. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan membuat anak merasa senang dalam belajar. Mengalami langsung apa yang sedang dipelajari akan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang lain atau guru menjelaskan. Membangun pengamatan dan pemahaman serta pengalaman langsung akan lebih mudah daripada membangun pemahaman dari uraian lisan guru. Belajar dengan cara mengalami langsung akan meningkatkan kreatifitas siswa dalam menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan.

D. Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini yaitu keterampilan menulis paragraf deskripsi sikap, dan tingkah laku siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati akan mengalami peningkatan jika guru menerapkan teknik objek langsung dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi ke arah yang positif.

IZZUL HASANAH, S.Pd
Guru SMK Tunas Harapan Pati, Pengurus Agupena Jawa Tengah

Sumber: PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF DESKRIPSI DENGAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL (BAB I DAN II) | Agupena Jawa Tengah http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-i-dan-ii/#ixzz1gmWEsrKs
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike



Paragraf merupakan kumpulan kalimat yang berisi satu gagasan. Paragraf merupakan jalan yang ditempuh penulis untuk menyampaikan buah pikirannya. Tidak semua kumpulan bisa dikategorikan sebagai paragraf. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk mengetahui ciri-ciri paragraf supaya kita bisa membedakan kumpulan kalimat yang berupa paragraf dan buka.


Berikut ini adalah ciri-ciri paragraf:
http://carapedia.com/ciri_ciri_paragraf_info1950.html

   1. Kalimat pertama bertakuk (block style) ke dalam lima ketukan spasi untuk jenis karangan biasa, misalnya surat, dan delapan ketukan untuk jenis karangan ilmiah formal, misalnya: makalah, skripsi, desertasi, dll. Karangan berbentuk lurus dan tidak bertakuk  ditandai dengan jarak spasi merenggang, satu spasi lebih banyak daripada antar baris lainnya
   2. Paragraf menggunakan pikiran utama (gagasan utama) yang dinyatakan dalam kalimat topik
   3. Setiap paragraf menggunakan sebuah kalimat topik dan selebihnya merupakan kalimat pengembang yang berfungsi menjelaskan, menguraikan, atau menerangkan pikiran utama yang ada dalam kalimat topik
   4. Paragraf menggunakan pikiran penjelas (gagasan penjelas) yang dinyatakan dalam kalimat penjelas. Kalimat ini berisi detail - detail kalimat topik. Paragraf bukan kumpulan kalimat - kalimat topik. Paragraf hanya besiri satu kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Setiap kalimat penjelas berisi detail yang sangat spesifik, dan tidak mengulang pikiran penjelas lainnya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar