Senin, 05 Desember 2011

Keceriaan di Ujung Jalan



Kurebahkan seluruh badanku untuk menghilangkan penat yang bersarang di setiap sendi-sendi tulangku. Senyum tetap terkulum di bibirku dengan bayangan kesuksesan atas masalah yang berhasil kutangani siang tadi. Sesaat aku teringat ada seberkas kasus yang harus segera aku tangani. Aku bangun,mencoba mencari berkas yang kumaksud di rak buku.

Praakk… sebuah album foto kusam jatuh ke lantai. Aku membuka lembar demi lembar album foto itu, kutemukan sebuah foto usang dengan senyum mengembang di bibir mungilnya. Tanpa terasa air mata merembes di pipiku. Sesaat aku teringat peristiwa beberapa tahun lalu.

***
Suara riang dua orang gadis terdengar di salah satu kamar sebuah asrama putri. Malam itu adalah malam yang sangat menyenangkan bagiku. Sebab esok adalah hari pertamaku mulai kerja di lapangan. Begitu pun dengan sahabatku yang tinggal di samping kamarku. Dengan berkumpul di salah satu kamar, kami saling bertukar cerita dan pengalaman serta membayangkan pengalaman apa yang balakl kita peroleh besok.
Aku seorang gadis berusia 19 tahun. Cukup tua juga. Aku memiliki tinggi badan 165 cm. karena postur tubuhku yang mendukung, aku mendaftar sebagai polisi wanita di salah satu kota di daerah Surabaya. Setelah selesai masa pendidikanku, aku ditugaskan di salah satu kota yang masih sedikit asing untukku, Kendari. Dari sinilah awal aku mengenal sahabatku yang berprofesi sebagai suster di salah satu rumah sakit di Kota Kendari. Keceriaan dan kebersamaan selalu mewarnai hari-hari kami. Karena tugas dan tanggung jawab, aku harus pergi ke salah satu kecamatan yang ada di Kota Kendari, yaitu Konawe Selatan, tepatnya di desa Lapoa Indah untuk menyelidiki kasus keracunan yang hampir menimpa sebagian masyarakat penduduk desa tersebut.
SMS kabar dan berita selalu kulakukan dengan sahabatku. Perjalanan apa yang kualami serta kerinduan dan kesejukan udara pedesaan selalu kuceritakan padanya. Begitu pun dengannya yang selalu menceritakan pengalamannya merawat berbagai macam pasien yang tak pernah lepas dari pendengaranku.
Seperti malam ini. Dengan senyum puas mengembang dan perasaan puas kuceritakan keberhasilan menangani penyebab keracunan di desa Lapoa Indah. Untuk itu, aku pun merencanakan akan pulang besok pagi ke Kendari. Sahabatku sangat bahagia mendengar encanaku akan segera kembali melalui telepon selulerku.
Semua barang-barang telah kurapikan dan aku siap untuk berangkat ke kota. Sengaja aku duduk di mobil dekat jendela agar aku dapat  menikmati indahnya nuansa pedesaan, hamparan padi yang luas sera rimbunnya pepohonan di gunung Wolasi dan Ambari. Tak luput pula kubayangkan keceriaan sahabatku serta renacan bertukar cerita dan pengalaman yang nanti malam akan kami lakukan.
Jam 10.30 aku tiba di asramaku. Cepat-cepat aku ambil barang-barang dan bergegas menuju ke kamar untuk melepas lelah. Karena aku yakin bahwa sahabatku pasti belum pulang dari bertugas  di rumah sakit. Dari halaman kudengar suara-suara gaduh di dalam asrama, tetapi aku berfikir bahwa itu adalah hal biasa, tak ada bayangan menyeramkan yang hadir di pikiranku.
Jantungku mulai berdetak cepat saat aku mendengar salah seorang menyebut namaku “Itu Wati datang!” dan aku melihat kerumunan orang berkumpul di depan kamar Rini, sahabatku. Aku berusaha berlari dengan berbagai pertanyaan yang hinggap di kepalaku.
Aku menerobos kerumunan orang yang berada di depan kamar dengan detak jantung yang semakin tidak berarturan, aku melihat beberapa orang polisi berada di dalam kamar Rini.
Praaakk….!!! Jatuh semua tarang yang ada dalam genggamanku. Seluruh sendi-sendi tulangku rasanya terpisah satu per satu. Aku melihat mayat tergeletak di atas ranjang yang telah ditutup oleh kain putih. Aku dipapah oleh seorang komandan kepolisian. Aku dengar samar-samar darinya.
“Sabar Wati, Rini gantung diri. Entah apa motifnya kami belum tahu. Tetapi ada saksi mata yang melihat tadi pagi ada 3 orang laki-laki yang datang kemari. Setelah ketiga laki-laki itu pergi ia segera mendatangi kamar Rini. Berkali-kali orang itu mengetuk pintu, tak ada jawaban dari Rini. Lalu ia memanggil anak-anak asrama untuk mendobrak pintu Rini. Setelah pintu berhasil didobrak, mereka mendapati Rini sudah tak bernyawa tergantung di depan kamar mandi.”

Bibirku beku, rasanya darah mendidih dalam tubuhku. Jasad Rini dibawa ke RS untuk dilakukan visum. Dari hasil visum, ditemukan ada beberapa luka memar dalam tubuh Rini dan ada beberapa bagian baju Rini yang koyak. Aku yakin, Rini bukan mati gantung diri. Aku berjanji pada diriku sendiri dan akan membuktikan kalau Rini bukan mati gantung diri.

***
Aku bersimpuh di samping pusara, kutaburkan bunga melati kesukaan Rani. “Ran, apa kabar? Ran, tau ngga, hampir lengkap berkas-berkas kukumpulkan  untuk membuktikan bahwa engkau bukan mati karena gantung diri. Ini semua berkat dukungan keluargamu dan orang-orang yang sayang padamu. Kamu sabar dulu ya, Ran, aku berjanji akan segera menuntaskan masalah ini, agar engkau lebih tenang di alam sana. Aku juga berjanji untuk selalu menjengukmu.
Dengan langkah gontai aku melangkah meninggalkan pusara Rini. Sampai saat ini,  aku belum bisa menghapus peluh di pipiku saat aku ziarah ke pusaramu. Rin, senyummu akan selalu melekat di ingatanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar